oleh : Anthony Dio Martin
Managing Director HR Excellency
Minggu-minggu ini, kita berduka! Rentetan gempa meluluhlantakkan bumi Sumatra. Sebelumnya, juga beberapa kawasan di Indonesia. Memang, tidak mudah saat kita menghadapi derita.
Rasanya tidak ada satu pun obat yang bisa mengobati semua itu, kecuali kita berharap, “Seandainya,semuanya bisa kembali ke sediakala”. Atau, sebuah pertanyaan naif, “Mengapa ini terjadi pada saya?”
Untuk itu, mengawali tulisan ini, saya pun teringat dengan kisah luar biasa dari pencipta saus Tobasco bernama Edward McIlhenny. Kejadiannya, setelah perang saudara di Amerika usai, kebun mereka yang begitu luas terhampar, betul-betul hancur.
Yang terbentang hanyalah rumput ilalang serta tanaman liar. Dikisahkan, melihat puing-puing itu, Edward McIlhenny berlutut di tanah dan berseru, “Tuhan yang memberi, Tuhan pula yang mengambil” (mirip kisah Ayub yang terkenal).
Namun, hebatnya, melihat reruntuhan itu, McIlhenny tidak menyerah bahkan, dia berusaha terus memotivasi dirinya. Justru dengan melihat begitu banyaknya tanaman-tanaman liar sejenis merica itulah, muncul idenya untuk membuat saus Tobasco yang terkenal.
Itulah asal muasal bisnis beromzet miliaran tersebut. Bayangkanlah kalau McIlhenny hanya terpuruk dalam kedukaannya dan tidak mencoba melihat jalan keluar secepatnya?
Pembaca, belajar dari kejadian di atas, selalu ada hikmah yang bisa diambil. Saya percaya Tuhan sengaja memberikan “guncangan” ini untuk membangunkan kesadaran kita.
Sama seperti orang yang melamun, kadangkala sebuah guncangan bisa membangunkan mereka dan menyadarkan di mana posisi mereka yang sesungguhnya.
Dalam tulisan kali ini, saya sengaja mengajak Anda yang tidak mengalami bencana untuk melakukan refleksi terhadap kehidupan. Marilah kita belajar dari peristiwa bencana gempa yang baru saja terjadi dan menyadari tiga hal penting dalam hidup kita, yaitu:
Sehebatnya manusia masih ada yang lebih berkuasa darinya
“Before God we are all equally wise – and equally foolish.” – Albert Einstein
Menyimak fenomena gempa yang akhir-akhir ini sering terjadi, termasuk “guncangan kecil” yang sempat menghebohkan kota Jakarta beberapa waktu yang lalu, seolah-olah Tuhan sedang menyadarkan kembali betapa kecilnya manusia di hadapan-Nya.
Di tengah maraknya berbagai training yang mengajarkan bahwa manusia bisa melakukan apa saja dan bahkan ada beberapa training ekstrem yang menyatakan bahwa manusia memiliki kekuatan tak terbatas, sampai-sampai trainer dan fasilitator yang memberikan pelatihan tersebut percaya bahwa mereka bisa menghadirkan mobil Honda Jazz di hadapan mereka hanya dengan memakai kekuatan pikiran.
Tentu saja saya tidak akan membahas apakah itu mungkin dilakukan atau tidak, tetapi dalam kesempatan ini saya hanya ingin mengajak kita kembali sadar bahwa bagaimanapun ada sebuah “kekuatan lain” yang tetap lebih absolut dari kemampuan kita sebagai manusia.
Berbagai perkembangan teknologi dan peningkatan kualitas kehidupan manusia kadang kala membuat kita menjadi sombong dan “lupa daratan”.
Memang jika dibandingkan dengan peradaban beberapa abad yang lalu, saat ini kita sebagai manusia sudah jauh lebih “berkuasa” dan mampu mengendalikan berbagai hal.
Kenyataan inilah yang akhirnya membuat kita dengan mudah menjadi makhluk yang lupa kepada Sang Pencipta dan memilih untuk mengandalkan kemampuan diri sendiri untuk mencapai kehidupan yang nyaman.
Saya rasa, guncangan yang terjadi di Padang seharusnya bisa “membangunkan” kita untuk selalu ingat kepada Sang Pencipta.
Semua yang kita miliki sifatnya sementara
“The only question with wealth is, what do you do with it?” – John D. Rockefeller
Sama seperti yang terjadi di Aceh, gempa Padang kali ini juga muncul dengan tiba-tiba seperti seorang pencuri pada tengah malam. Banyak sekali orang yang terguncang dan tidak percaya dengan apa yang terjadi karena semua yang mereka miliki lenyap hanya dalam hitungan menit, bahkan detik. Bukan hanya harta benda, melainkan juga famili dan orang-orang yang mereka sayangi.
Hal ini menyadarkan kita bahwa sebanyak apa pun harta yang kita miliki, jika Tuhan berkehendak, semuanya bisa lenyap dalam hitungan yang sangat cepat. Karena itu, sudah saatnya kita mawas diri dan tidak perlu menjadi sombong dengan segala pencapaian dan kepemilikan kita.
Saya sering sekali mendengar, membaca, dan menyaksikan orang-orang yang “berkelimpahan” harta dan materi tetapi bersikap sombong, memandang rendah orang lain, dan tidak mau bersosialisasi dengan lingkungannya.
Ketika mereka mengalami bencana dan musibah, banyak orang yang tidak mau menolongnya dan membiarkan mereka begitu saja, karena mereka kesal dengan arogansi dan kesombongan mereka.
Semoga gempa kali ini kembali menyadarkan kita semua untuk selalu hidup berbagi dan tidak mudah sombong hanya karena kita memiliki kelebihan dibandingkan dengan orang lain.
Empati tidak harus menunggu musim
“Remember there’s no such thing as a small act of kindness. Every act creates a ripple with no logical end.” -Scott Adams
Ketika gempa Padang terjadi, semua orang segera berlomba-lomba untuk mengumpulkan bantuan. Seolah-olah mereka seperti dibangunkan untuk berbuat baik.
Sebenarnya, untuk berbuat baik dan berempati kepada orang lain, kita tidak harus menunggu sampai bencana terjadi. Di sekeliling kita tidak kalah banyaknya orang yang membutuhkan bantuan dan mengalami nasib yang sama tragisnya dengan para korban gempa. Namun, sayangnya kadang kala kepekaan kita hanya muncul pada peristiwa-peristiwa “bombastis”.
Tentu saja tidak salah berempati dan menolong korban-korban bencana. Namun, kita juga harus terlatih untuk menjadi peka dengan orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan pertolongan.
Jangan sampai naluri empati kita hanya aktif secara “musiman”. Saya pernah punya teman yang secara khusus menyisihkan penghasilan bulanannya dan mengalokasikan uang tersebut untuk membantu orang lain.
Setiap bulan dia selalu memikirkan uang yang disisihkan itu akan dipakai untuk apa. Kadang-kadang dia membeli nasi bungkus untuk dibagikan kepada anak-anak jalanan.
Kadang kala dia menggunakannya untuk membeli benda yang kebetulan sedang dibutuhkan oleh temannya yang kesulitan uang, kadang kala dia memakainya untuk mentraktir teman indekosnya yang ia tahu uang bulanannya sudah habis, dan berbagai tindakan sederhana lainnya.
Jangan sampai Tuhan sampai “mengguncang” kita hanya untuk melatih kita berempati. Empati bisa kita lakukan kapan saja, kepada siapa saja, dan dengan cara yang sederhana sekalipun.
Nah, rekan pembaca semua. Artikel kali ini memang sederhana, tetapi paling tidak saya berharap tulisan singkat ini bisa mengingatkan kita semua bahwa di balik semua kehidupan kita ini, ada nilai-nilai penting yang harus kita hidupi.
Jangan sampai Tuhan terus-menerus memakai bencana dan berbagai “guncangan” hanya untuk menyadarkan dan mengembalikan kita kepada nilai-nilai kekal tersebut.
Sumber: Bisnis Indonesia, Jumat, 09/10/2009